Perjalanan sukses Bos Prima Aircon, Moch Taufik Hidayat

Kategori

Jurnalpendingin.com~Advertisement–Mohammad Taufik Hidayat, adalah seorang enterpreneur Sukses, Direktur CV. Prima Airconditioner Cilegon yang perjalanan hidupnya sangat unik dan bisa menginspirasi para pembaca yang Budiman, inilah penuturan Mohammad Taufik Hidayat dalam bincang eklusif dengan Jurnalpendingin.com

Taufik kecil

Moh Taufik Hidayat di lahirkan di Kota Surabaya oleh seorang Ibu Siti Munazah. Taufik kecil mempunyai kisah yang memprihatinkan, semenjak 3 ( tiga ) bulan  dikandungan Ibunya Taufik sudah di tinggal sang ayah Muhammad Tohir Kawin dengan Wanita lain. Taufik sendiri 3 ( bersaudara ) yaitu :

- Advertisement -

1. Ichwanul Khirom
2. Yuli Hidayati
3. Mohammad Taufik Hidayat

Sekolah

Saya nggak pernah sekolah TK tetapi langsung SD, karena dulu dengan kondisi saya dari keluarga nggak mampu jadi langsung masuk SD.

- Advertisement -

SDN Rangkah V Surabaya itu adalah sekolah saya, kalau orang-orang sekolah 6 Tahun tapi saya nggak, saya sekolah SD 7 Tahun.

Kenapa nggak naik sekolah…? , jadi karena rabun dari kecil sehingga untuk menjelaskan secara tertulis itu kesulitan, bukan karena saya bodoh, menurut guru saya sebenarnya saya orang yang cerdas, tetapi asebab rabun itulah saya terhambat.
Karena dari keluarga nggak mampu jadi untuk ngomong mau beli kacamata itu nggak berani, walaupun  minta kacamata juga kepada orang tua, akirnya kelas 5 saya dibelikan kacamata. Lucunya kacamata itu juga nggak saya pakai… ungkap Taufik sambil terkekeh. SD nggak naik dari kelas 3 ke kelas 4 saat itu, tetapi akirnya saya lulus SD juga.

Kantor CV. Prima Air Conditioner Cilegon

SMP Kepanjen 1 Mundu Tambaksari Surabaya

Hanya 1 tahun sekolah disini, karena sekali lagi mata nggak normal, sekolah nggak serius dan sering mbolos akirnya nggak naik juga saat kenaikan ke kelas dua. Lalu saya pindah ke SMP Muhammadiyah 13 Tambak Bening Surabaya.
Karena memang sebelumnya saya bandel, saya yakin disini akan baik karena disini kan sekolah berbasis Agama, tetapi disana juga ternyata anak-anak buangan semua, saya jadi berandal lagi, Taufik tertawa lagi sampai membuat perbincangan terhenti sejenak.

Disini saya ketemu guru fikih namanya Pak Supeno beliaulah yang akirnya mengajarkan saya kehidupan yang benar, sampai istighfar nangis-nangis saya saat diberikan petuah oleh beliau. Dari situlah saya mulai tergugah untuk memahami kehidupan dan akirnya saya lulus dari SMP.

Lulus SMP saya ke STM “45” Jalan Jojoran 1/46 Surabaya, ternyata di kelas 1 saya juga belum serius, baru ketika naik kelas 2 saya baru mulai serius. Panjang cerita, saya dari SD sampai STM itu sekolah serius baru di Kelas 2 STM Mas, biasanya main judi dan sebagainya, mbandel lah pokoknya.

Foro bersama saat Acara DID Gathering


Disekolah ini saya membangun satu motivasi saya untuk menggeluti dunia Pendingin, karena saya ngambil jurusan mekanik umum dan saya sangat senang dengan Pekerjaan itu, saya itu mulai dari SMP kelas 3 sampai STM setelah pulang sekolah, ikut kerja orang service alat pendingin, ya..seminggu tiga kali rata rata, dua hal itulah yang mebangkitkan minat saya kepada dunia Pendingin.

Karir

Lulus sekolah dan berbekal pengalaman saat saya ikut service alat Pendingin tidak lantas membuat saya berlanjut menggeluti dunia Pendingin ini, ternyata saya malah terjun bebas ke dunia “Sales”
Sales kanvas kosmetik saat itu selama 2 Tahun dari Tahun 1996 sampai 1998.
Sebenarnya saya punya prestasi juga di Sales ini, artinya prestasi dalam penjualan ya, karena memang dari kecil sudah biasa dagang sih…
Dari situlah terbangun yang namanya keinginan kuat untuk menjadi entrepreneur, saya banyak belajar berbagai hal.
1998 saat krisis moneter banyak perusahaan yang tutup total, tetapi saya nggak kena efek dari itu karena saya punya prestasi. Namun karena kekompakan team sales kami, walaupun income saya besar dari situ ”keluar satu keluar semuanya” saya ikut keluar juga.

Dari situ saya ke Jakarta saat rame-ramenya penjarahan di Jakarta 1998, yang lucunya saya dikira sama orang akan ikut penjarahan padahal saya cari kerja. Saya nggak memikirkan apa yang terjadi di Jakarta. Saya punya temen tetangga yang di Jakarta, ya saya ke Jakarta.

Kebetulan tetangga saya itu sopirnya dari Keluarga Sudomo tinggal di  Usman Harun Komplek A-L Cawang, disitu saya berkumpul dngan petinggi-petinggi semua. Disitu saya numpang hidup ya jadi waktunya ngepel ya ngepel, nyapu ya nyapu, nyuci ya asisteh Pembatu-lah
Tapi Alhamdulillah dengan merantau itu saya jadi kuat.

Mengikuti Acara Gathering Daikin Indonesia

Lama-lama saya terjun lagi sebagai Sales, yaitu sales Panci serbaguna dan door to door service. Nggak lama saya kembali lagi ke Surabaya Tahun 1998, saya di Jakarta hanya kisaran 3 bulan, disitulah saya ketemu dengan Instri saya ini. Yang unik dari perjalanan saya, saya nggak pernah beli tiket Mas, apa ya istilahnya AC-AC gitu, jadi kalau ada tiket jatuh saya hanya mengganti 1000 atau 2000 gitu. Sama istri saya itu dulu waktu di kereta nggak punya kursi, disitu saya kasih kursi seakan-akan saya punya kursi padahal nggak ada… lanjutnya sambil tertawa lebar….
Namanya jodoh itu nggak kemana-mana, ndlalahe bojoku ke ngontrake cedek omahku Mas ( istri saya ngontraknya dekat dengan rumah saya )
Kenangan indah saya itu lagu Stasiun Balapan, karena kenalnya dengan istri saya itu di stasiun Senen saat saya mau pulang ke Surabaya sementara istri saya dari rumah saudaranya di Jatiasih.

Di sepanjang perjalanan itulah ternJadi yang namanya “ Cinta remaja” witing tresno ( mulainya cinta )
Berjalan kami pun istilahnya pacaran, saya itu juga orangnya cuek kalau apel itu ya pakai sepeda onthel, sepeda butut, tapi ya alhamdulillahnya diterima.

Jadi selama ini perjalanan cita saya nggak pernah awet, saya pernah nazar “dengan kondisi saya yang acak-acakan ini kalau ada yang mau saya nikah…saya nikahin. Betul akirnya kami menikah, dan seminggu langsung ke Jakarta.
Kembali lagi ke Usman Harun lagi…, akinya ketemu nyales lagi, ndlalah ketemu service ac dan kulkas di Meruya dulu bosnya itu pegang Produk Uchida, waktu itu jamannya kulkas Eks Jepang yang 110V ya. Tapi disitu ada gesekan karena ada permalasahan dengan teman, saya keluar.

Langsung saya ke kakak ipar, itri saya hamil berapa bulan ya, dan saya nganggur 2 bulan apa 3 bulan, lalu saya dapat lowongan kerja di daerah Tebet dekat Pancoran, di AC juga di PT, Pancasari Mayorita, bos saya dulu MPP Tentara.

Kami mendapat tantangan dari bos, siapa yang dapat memberikan pekerjaan Kontrak akan saya beri komisi tuh…. Komisi umumnya 2,5%
ini jadi pemicu saya, akirnya saya cari kerjaan di sebuah Pabrik di Cilegon tepatnya di Mitsibishi Chemical Indonesia dulu Bakri Kasih. Akirnya saya ditantang untuk buka di Cilegon lantas saya iyakan, disitu saya mulai menggeluti dunia Pendingin lagi, saya sebagai Kepala Cabang dari Perusahaan.

Tetapi dengan perjalanan sampai punya kantor cabang disana itu teman saya ingat akan komisi yang dijanjikan dan seharusnya saya terima. Dia bilang “bagi dong komisinya”.

Tetapi begitu saya tagih ke bos saya, saya malah di olok-olok ( kamu itu nggak sadar ya kamu dari Jakarta ke Cilegon siapa yang bawa ) lho saya kaget dalam hati saya nggak kebalik yang ada juja perusahaan anda yang saya bawa ke Cilegon, dari situlah lebih kuat lagi keinginan saya, saya nggak cocok kerja sama orang “ saya harus usaha sendiri”. Dengan insiden yang dialami bos saya maka perusahaan kembali di Jakarta.

Akirnya saya mulai merintis usaha Mas tahun 2000, di perjalanan merintis itu luar biasa Mas antara “onok di pangan, gak ono yo wis”, waktu itu sudah punya anak Mas. Istri saat itu nggak setuju ya saya buka usaha ya mungkin dia khawatir nggak bisa makan, tapi saat itu saya pakai ilmu sales saya, dengan modal kepercayaan.

Saya nggak punya alat tetapi saya punya background, saya beli buku waktu itu buku panduan Teknik dari Handoko, saya pelajari. Namanya sales kan harus paham teknik ya.

Saya nggak punya alat saya subkan ke orang lain, yang penting saya punya nama dulu, jadi nggak semuanya saya subkan, pekerjaan yang nggak punya alat saya subkan yang saya punya alat ya saya kerjakan sendiri. Pernah saya ngalami pasang outdoor pakai braket itu saya nggak punya bor, akirnya saya pakai obeng diketrik dikit dikit, ya Alhamdulillah konsumen masih mau.

Akirnya dari hasil pekerjaan-pekerjaan itu saya sisihkan buat-alat, dan akirnya terkumpul, sebagian buat makan sebagian lagi buat modal.

Bersama Narno Rico, Konsultan Pajak

Saya membangun usaha itu benar-benar nggak pakai modal, saya keliling itu pakai sepeda, dulu ada nada Authorized Samsung-LG disini, saya nongkrong-nongkrong aja disana sambil nyari relasi.

Dengan minimnya konsumen yang kami punya, maka bagaimana saya mengembangkan dengan kemampuan saya, dengan ilmu nyales tadi. Saya kembali jadi sales sugus untuk membangun relasi saya, tetapi setelah tahu etika kerja “ketika kita mempunyai jam kerja di tempat lain maka nggak boleh gunakan untuk dirinya sendiri” akirnya saya keluar dari Sales Sugus.

 Saya itu mau beli rumah, tapi nggak ada persyaratan, jangankan rumah motor aja nggak akan dipercaya sama dealer. Akirnya saya membeli petakan patungan dengan teman saya yaitu untuk jaminan bahwa saya ada lho domisili disini. Itu tidak jauh dari permodalan Bank Mas mulai dari 5.000.000 sampai 15.000.000 akirnya saya bisa membeli rumah seharga 145.000.000 saat itu saya sudah mempunyai badan usaha. Syarat untuk ngambil rumah itu saya ikutin, Tahun 2010 saya buat legalitas. Tapi saya pesimis Mas tadinya kan imagenya kan buruk bengkel itu di mata Konsumen, saya berfikir mau membuat Komunitas, akirnya ketemu dengan Mas Sulis – Silstyo Sanyota. Beliau nggak mau malah saya dikenalkan dengan API, waktu itu baru dengan Mas Sulis dengan Pujiono.

Saya mulai terbuka saat bergabung di API, ternyata ilmu saya nggak ada apa-apanya. Banyak hal yang belum saya pahami, kadang ada pelanggan yang tanya mengenai pendingin yang saya belum paham tetapi saya meyakini banyak kawan saya yang bisa, walaupun begitu saya juga nggak bilang kalau saya bisa, itu kan bohong.

Dari sisi Manajemen juga nol mas, saya belajar dari sana-sini walaupun sampai sekarang juga masih terus melakukan improvisasi.

Yang terpenting, Alhamdulillah saya Ibu saya minta Umroh, dan sudah bisa meberangkatkan orang tua umroh Mas, kalau haji kan lama ya, pinginnya memberangkatkan nenek Haji tapi sudah keburu meninggal. Hal lain saya juga menolong menguliahkan ponakan ya pernah 3 orang,  1 gagal yang 2 sarjana.

Alhamdulillah yang terbesar saat ini saya terima adalah saya pernah mengelola proyek yang nilainya bisa mencapai 5 ember Mas. Kemudian juga sudah bisam membangun Kantor dan Rumah di tempat berbeda, beberapa kendaraan Pribadi dan operasional.

Terakir saya mau sampaikan rasa terimakasih kepada Kakak angkat saya namanya Erwin Ermawan, dari Jawa Timur. Beliau yang membimbing saya tanpa parih Mas, padahal dulu saya sebagai pembantunya dia, yang saya salut nggak ada istilah namaya hutang budi Mas, kalau ketemu saya bukan tanya yang lain-lain, tetapi Sholatmu bagaimana ?
Banyak yang beliau bantu Mas, menyekolajkan orang, orang mau usaha di bantu sampai Sukses. Mungkin itu slah satu kunci kesuksesan.

Bersama Putra Pertamanya

Selain factor diatas, saya hingga seperti ini juga atas dukungan istri, saya sangat merasa berdosa sekali Mas, karena selama 7 tahun saya hanya bisa memberi makan dan kebutuhannya tetapi mengabaikan Prime Time buat istri dan anak. Maka sebagai penghargaan sekarang Istri saya ( Sugiyanti bin Promo Prawiro, lahir di Wonogiri ) sebagai Komisaris Perusahaan. Demikian tutup Bapak dari Bapak 3 anak ; Muh Rizki Ariyanto yang sedang mengejar pendidikan di  Unsera ( Universitas Serang Raya ), Imroatus Shaliha  SMA N 3  dan Shali Saddiya SMP Negeri 5 tersebut .

Terakir Taufik sampaikan ,
Perjalanan saya hingga seperti ini tidak lepas dari bergabungnya saya di Apitu Indonesia, Apitu salah jembatan dan penyambung rejeki bagi orang-orang yang suka bersilarurahim.

[MJN]

- Advertisement -
-advertisement-
-advertisement-

Populer

Artikel Lainnya

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama disini